Oleh Yuslan Kisra
11 Okt 2010 19:22:00
Ketua umum Persebaya Surabaya Saleh Ismail Mukadar kembali menyuarakan 'gong' perubahan di tubuh organisasi PSSI yang saat ini di bawah kendali Nurdin Halid sebagai ketua umum, demi kemajuan sepakbola nasional yang menurutnya masih berada di jaman jahiliyah dengan bentuk kompetisi penjajah.
Bagaimana tidak lanjutnya, semua klub dipaksa 'menyusu' ke APBD lalu kemudian 'dirampok' melalui jalur komisi hukum yang ada. Apakah itu Komdis (komisi disiplin) maupun Komisi Banding (Komding), yang selama ini menjadi 'pengisap darah' bagi klub melalui sanksi yang dijatuhkan.
Dikatakannya, karena sudah sedemikian parahnya 'penyakit' yang menggerogoti kepengurusan otoritas sepakbola nasional itu, sehingga yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan tersebut bukan lagi reformasi tapi revolusi dengan mengikis habis dari akar-akarnya. "Satu-satunya penghasilan yang diberikan klub adalah hak siar televisi yang nilainya sekitar Rp30 juta untuk setiap pertandingan. Dana ini akan dibayarkan ke klub di setiap akhir kompetisi," urainya ditemui GOAL.com disela-sela mengikuti diskusi nasional bertajuk "Sepakbola Indonesia: Reformasi atau Tertinggal" di Jakarta, Senin (11/10)."Parahnya, karena dana tadi jarang diterima klub secara utuh. Bahkan ada yang tidak menerima sama sekali. Sebab sudah dipotong langsung dengan denda dari Komdis maupun Komding, serta kartu kuning maupun merah yang diperoleh pemain klub bersangkutan selama semusim. Apakah ini bukan namanya kompetisi penjajah?."
Masih kata Saleh, dirinya berharap agar pemerintah lebih tegas dalam menyikapi carut-marutnya sepakbola nasional dengan mengeluarkan larangan penggunaan dana APBD untuk sepakbola. Maklum saja, karena hampir Rp1 triliun total dana rakyat yang dihabiskan untuk semua klub di tanah air setiap tahun dipastikan sia-sia.
Pasalnya, bukan peningkatan prestasi sepakbola nasional yang diperoleh, justru malah membuat pengurus PSSI semakin bersuka cita mengeruk dana itu dari klub, dengan berbagai cara termasuk mengeluarkan aturan sesuka hati.
Satu indikasi kuat sia-sianya dana rakyat sebanyak itu imbuh Saleh, dengan Timor Leste saja timnas Indonesia tidak bisa menang. Padahal, bekas provinsi ke 27 Indonesia itu baru merdeka sehingga bisa dipastikan baru belajar bermain sepakbola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar