Laporan Fahri Rayyana dari Surabaya
7 Okt 2010 11:16:00
Sikap keras dan lantang yang disuarakan Persebaya dapat apresiasi khusus dari Liga Primer Indonesia (LPI). Arya Abhiseka, juru bicara LPI mengaku angkat topi dengan sikap Persebaya ini.
"Kita tak menganjurkan Persebaya selantang ini. Tapi itulah jiwa arek-arek Suroboyo, nggak bisa diam tiap ada ketidakbenaran," ujarnya.
Padahal, lanjut Arya, pilihan ini penuh tantangan. Terbukti banyak sekali goncangan yang dihadapi Persebaya atas putusan yang diambil (ikut LPI).
"Semua saya ikuti di media. Pak Saleh juga sering cerita," jelasnya ditemui di Wisma Eri Irianto Surabaya.
Mantan wartawan salah satu televisi swasta ini menjelaskan, dalam LPI, memang Persebaya menjadi leader atau penerobos koridor PSSI. Meski hingga saat ini baru Bajul Ijo yang berani memasang badan, namun saat LPI di-launching nanti beberapa klub lainnya bakal mengekor langkah Persebaya.
"Hanya soal waktu saja," tambahnya.
LPI juga menegaskan pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan PSSI. Meski begitu, Arya memastikan akan tetap jalan kendati tak dapat ijin.
"Saya yakin PSSI akan merestui. Tak ada satu alasan pun dalam aturan FIFA yang melarang. Inikan ikhtiar untuk memajukan sepakbola Indonesia. Kalau dilarang, berarti kan nggak ingin sepakbola maju?" sergahnya.
Begitupun dengan ancaman pemecatan yang kerap dilontarkan para petinggi PSSI.
"Tidak ada ceritanya FIFA menyetujui PSSI untuk mengeluarkan 18 klub dalam satu kompetisi. Bisa jadi tim FIFA bakal turun tangan untuk melihat kondisi sepakbola Indonesia," jelas Arya.
Ia menjabarkan, untuk memberikan sanksi perorangan atau klub, PSSI harus mengkonfirmasi hal itu ke AFC (Federasi Sepakbola Asia) dan FIFA (Federasi Sepakbola Dunia). Ia pun mencontohkan kasus Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar, yang diskors tiga tahun dan denda Rp 50 juta.
"Pak Saleh misalnya. Memang dia dihukum PSSI, tapi suratnya belum ditembuskan ke AFC dan FIFA. Padahal semua sanksi yang dijatuhkan federasi harus ditembuskan ke AFC dan FIFA. Karena nantinya hukuman itu akan berlaku global," terang Arya.
"Selain itu, sebelum mengakui hukuman, FIFA akan melakukan riset. Nah, masalahnya saat ini, surat itu belum ditembuskan ke FIFA. Jadi hukuman itu belum berlaku seutuhnya," tutup Arya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar