Selasa, 26 Oktober 2010 14:02:00 WIB
Reporter : M. Syafaruddin
Setelah dilaunching, Jumat (22/10/2010) lalu, semua mata terbelalak menyaksikan komposisi tim Persebaya Surabaya Divisi Utama yang dipimpin Wisnu Wardhana. Bagaimana tidak, janji Ketua Umum Persebaya Tandingan itu untuk mendatangkan pemain berkualitas ternyata hanya bualan besar. Dari 33 pemain, praktis tak satupun yang berlabel bintang.
Dari sektor kiper misalnya, dua nama dicantumkan, yakni Aris Noviandi dan Aditya Fajar. Aris merupakan pemain Persikubar Kutai Barat di ajang Piala Gubenur Jatim 2010. Selama membela Persikubar, Aris lebih banyak duduk di bangku cadangan. Sebab posisi kiper utama milik Yanuar Fernanda yang kini berbaju Deltras Sidoarjo.
Bandingkan dengan Persebaya Indonesia Primere League (IPL) yang menggunakan dua kiper berpengalaman di kompetisi sepakbola Indonesia, macam Endra Prasetya dan Afriyanto. Selain itu, Persebaya LPI juga memiliki kiper muda yang pernah menimba ilmu di Uruguay bersama Timnas SAD Indonesia, Dimas Galih Pratama. Lalu untuk sektor belakang, Persebaya Divisi Utama mendaftarkan banyak nama 'usang', seperti Rustanto Sri Wahono dan M Khusen. Selain sudah berkepala tiga, kemampuan kedua pemain ini menurun drastis. Selain itu terdapat beberapa pemain Persikubar lainnya, seperti Sulkan Arif, Agusmanto Khodari Amir, Taufik Soleh dan Imam Yulianto. Praktis hanya diisi pemain lokal.
Sedangkan komposisi pemain belakang Persebaya diisi pemain yang sudah malang melintang di sepakbola nasional, seperti Erol Iba, Mat Halil, Harry Salisburi, Johan Ibo, mantan pemain Timnas U19 Indonesia, Sunaji serta pemain asing asal Argentina, Juan Marcelo Cirelli. Kekuatan semakin lengkap dengan bergabungnya pemain muda Nur Fasta.
Jika melihat deretan pemain di lini tengah, jelas Persebaya IPL lebih unggul. Selain punya pemain lokal kualitas nasional, seperti Andik Vermansyah, Taufiq, Khusnul Yuli dan pemain Timnas U-23, Lucky Wahyu, Bajul Ijo juga memiliki gelandang asing bertubuh mungil, John Tarkpor.
Sementara di lini tengah Persebaya Divisi Utama, memiliki pemain lokal, La Umbu, Redi Suprianto dan pemain udzur, Kuncoro. Satu-satunya pemain yang bisa diharapkan adalah, mantan pemain asing Deltras, Sackie Doe.
Jika melihat komposisi lini depan, maka harus diakui Persebaya IPL jauh lebih berkualitas. Persebaya Divisi Utama hanya diisi pemain buangan macam Cornelis Kaimu dan Wimba Sutan Fanosa. Meski ada dua asing, yakni Orock Charles dan Camara Fassawa, namun keduanya bukan pemain asing jempolan di Indonesia.
Hanya empat pemain yang mengisi lini depan Persebaya IPL. Dua diantaranya adalah muka lama, yakni Niko Susanto dan I Made Adi Wirahadi. Sedangkan nama lainnya adalah pemain muda, Miko Ardiyanto. Yang paling mencolok tentu striker asing asal Prancis, Amick Ciani. Pemain ini didatangkan dengan banderol Rp 1,1 miliar.
Berbicara soal kualitas, Persebaya LPI memang lebih unggul. Lalu bagaimana dengan budget yang dikeluarkan kedua pengurus. Untuk Persebaya IPL, harga yang dipatok untuk tiap pemain memang bervariatif. Tapi kisarannya mulai Rp 60 juta hingga termahal, yakni Rp 1,1 miliar.
Komisaris Utama PT Persebaya Indonesia (PTPI), Saleh Ismail Mukadar mengaku mengeluarkan hampir Rp 10 miliar untuk belanja pemain saja. "Ya, mungkin segitu. Pokoknya tidak jauh beda dengan musim lalu," aku Saleh.
Lalu bagaimana dengan Persebaya Divisi Utama. Kabarnya, untuk pemain asing, kontrak termahal sebesar Rp 350 juta. Sedangkan untuk lokal, termahal dihargai Rp 200 juta. Bila kita mencoba melakukan pemisalan, dengan catatan harga pemain Persebaya Divisi Utama rata-rata Ro 300 juta, maka harga untuk tiga pemain asing sama dengan harga John Tarkpor.
Sedangkan untuk seorang pemain Persebaya IPL, yakni Amick Ciani, banderol Rp 1,1 miliar dapat membeli empat pemain asing dengan kualitas sama dengan punggawa asing di Persebaya Divisi Utama. Jadi boleh dikata, mulai dari kualitas dan harga, Persebaya IPL masih lebih unggul.
Tapi apakah materi pemain penuh bintang sebuah jaminan? Tentu saja tidak. Sebab, sepakbola adalah suatu permainan kolektif. Jadi untuk pembuktiannya, kita lihat saja pada kompetisi sesungguhnya nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar